Dapatkan buku-buku karya Usni Arie terbaru (Penebar Swadaya Jakarta), Panen Lele 2,5 Bulan, Panen Bawal 40 Hari, Panen Ikan Mas 2,5 Bulan, Panen IKan Patin 3 Bulan. Tersedia kumpulan artikel budidaya ikan air tawar (23 jenis ikan), kumpulan artikel budidaya nila gesit. Miliki buku Kiat Sukses Beternak Kodok Lembu. Hubungi 081 563 235 990.

02 May 2008

Escudo

Tak pernah terlintas dalam benak Rosa, pegawai pemerintah daerah sebuah kota, kalau dia akan mendapatkan sebuah mobil. Tidak tangung-tangung, sebuah escudo baru, mobil yang sangat mahal menurut ukuran-nya. Sangat tidak mungkin baginya untuk dapat membeli mobil itu. Karena gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kalau dia menabung, dengan sisa gajinya tentu akan membutuhkan waktu puluhan tahun sampai mendapatkan uang seharga mobil itu. Dengan gaji totalnya saja, perlu waktu belasan tahun. Artinya dia tidak makan apa-apa.

Makanya dia sangat senang saat mendapat khabar dari sebuah majalah yang setiap bulan dibelinya, bahwa dia telah menjadi pemenang dalam undian yang diadakan oleh majalah itu. Tukang pos yang telah mengantarkan surat tanda kemenangan itu. Sebagai tanda terima kasih, dia mem-beri uang rokok kepada tukang pos itu.

Terbayang olehnya bila mobil itu sudah berada ditangannya. Suaminya akan menghidupkan mobil itu di depan rumahnya setiap pagi. Setelah mobilnya panas, dia dan anaknya akan naik dan pergi untuk tugas kesehariannya. Sedangkan suami-nya akan duduk di belakang stir.

Mulanya, tentu dia akan mengantar anaknya ke sekolah yang lokasinya kebetulan setiap hari dilewati saat berangkat kerja. Di sekolah, anaknya akan dianggap sebagai anak orang kaya oleh teman-temannya. Demikian juga dengan guru-guru dan pengantar-pengantar sekolah yang lain, akan menganggapnya seperti itu. Tentu saja, hal itu akan membuat anaknya merasa bangga.

Setelah itu, dia akan naik lagi dan duduk di jok depan dengan kaca tertutup. Hawa sejuk AC akan menyelimuti seluruh tubuhnya dan harum air fresh akan masuk ke lubang hidungnya. Tak mungkin ada debu yang akan menyentuh tubuhnya.

Mobil itu akan melaju di jalan aspal bersama mobil lain yang setiap hari melintasi jalan itu. Dia tak akan mengenal lagi angkot yang kacanya selalu terbuka, dengan asap yang menyengat, merasuk lubang hidungnya.

Dia tak perlu lagi menuruti keinginan supir angkot yang selalu menunggu penumpangnya yang masih berjalan di gang. Tak perlu lagi mobil itu mundur untuk menjemput penumpangnya yang terlewat. Mobil itu akan melaju terus, hingga dia akan cepat sampai di kantornya.

Mungkin dia tidak akan mengenal lagi angkot yang setiap hari ditumpanginya. Mobil umum itu akan menjadi pemandangannya sehari-harinya. Dia juga tak akan dilihat lagi oleh pemilik mobil pribadi, sebagai penympang yang duduk di angkot dengan penumpang lainnya.

Selama perjalanan, dia akan nyaman tidak terganggu oleh penumpang lain yang seringkali berisik dan suka merokok dalam mobil. Jok yang didudukinya juga akan terasa empuk, tidak seperti angkot yang kadang sudah tak berbusa.

Sampai di tempat kerja, dia akan turun tepat di depan pintu utama kantor seperti yang dilakukan atasanya setiap hari. Sedangkan suaminya akan memarkir mobilnya di tempat parkir kantornya.

Di kantornya, sudah pasti banyak teman-temannya yang iri dan bersikap lain terhadapnya. Mereka akan menganggap dia sebagai orang yang beruntung. Mungkin kedudukannya juga akan dipindahkan ke tempat yang lebih baik, tidak seperti sekarang yang dianggapnya kurang menguntungkan.

Selesai jam kerja, dia tidak perlu lagi pulang dengan menum-pang mobil Mona yang dianggapnya judes. Tidak perlu lagi harus berjalan ke depan kantor untuk mencegat angkot. Cu-kup berdiri di depan pintu utama seperti atasanya, karena mobil itu akan segera menghampirinya. Selain itu juga, pasti banyak teman se kantornya yang menumpang.

Sambil pulang, dia dengan mudah akan mampir ke Pasar, ke Mall atau ke Depstor untuk membeli berbagai kebutuhan hi-dupnya, tanpa harus berganti-ganti angkot. Sampai di rumah badannya tidak akan berkeringat, tetap segar dan tidak lelah.

Sekali-kali seluruh keluarga bisa pergi rekreasi untuk meng-hilangkan rasa jenuh tanpa harus menyewa mobil lain atau menumpang mobil tetangga. Saat lebaran dia bisa pergi ke rumah mertua atau orang tuanya dengan mudah tanpa harus memesan tiket terlebih dahulu.

Itulah bayangan yang ada dalam benaknya, sambil meme-gang selembar kertas yang baru saja diterimanya dari tukang pos. Semua yang ada dalam benaknya itu telah menambah keingiannya untuk segera memiliki mobil itu. Dan masih banyak lagi yang dibayangkannya.

“ Ma ! tiba-tiba suara Gondo, suaminya yang sejak tadi sudah berdiri memperhatikan sikapnya.

Gondo menghampiri Rosa, ke-mudian duduk di kursi.

“ Eh, Papa. Bikin kaget saja “ kata Rosa.

Rosa terhentak mendengar suara suaminya. Segera dia mem-balikan tubuhnya menghadap Gondo sambil tersenyum.

“ Kenapa Mama dari tadi tersenyum sendiri ?

Gondo yang sudah duduk mengangkat kakinya. Satu per satu sepatu dan kaos kakinya dibuka, kemudian menatap istrinya.

“ Karena Mama lagi senang “

“ Lagi senang ? Memangnya ada apa, Ma ?

Gondo nampak terkejut.

“ Hari ini kita beruntung, Pa. Kita akan mendapat sesuatu yang belum pernah kita bayangkan sepanjang hidup kita “

Rosa tersenyum.

“ Apa sih maksud Mama ? Papa enggak ngerti “

Gondo menatap tajam Rosa.

“ Kita akan mendapatkan sebuah mobil “

Gondo sangat kaget mendengar jawaban istrinya. Hatinya tak percaya sedikitpun.

“ Mobil ?

Gondo semakin tidak mengerti.

“ Iya, Pa. Sebuah Escudo “ jawab Rosa yakin.

“ Ah kamu jangan main-main, Ma !

“ Betul, Pa. Mama enggak bohong “

“ Memangnya dari mana kita akan dapat Escudo ?

“ Dari hasil undian, Pa. Undian yang diadakan majalah ini “

Rosa mengambil sebuah majalah di bawah meja yang setiap bulan dibelinya, kemudian memperlihatkan kepada suaminya.

“ Masa sih, Ma ?

Gondo masih belum percaya.

“ Iya, Pa. Ini buktinya “

Rosa menunjukan selembar kertas dan sebuah amplop. Keduanya diserahkan kepada Gondo.

Gondo mengambil amplop itu. Benda itu dibolak-balik, ke-mudian ditatapnya. Bagian muka amplop itu dibaca, tertera di bagian itu nama istrinya, lengkap dengan alamat rumah.

Gondo heran dari mana majalah itu tahu nama istri dan alamatnya. Namun setelah dia ingat istrinya ikut undian, rasa herannya hilang. Amplop itu kemudian dibaliknya. Di bagian itu tertera nama majalah itu, lengkap dengan alamatnya.

Gondo mengambil surat dari tangan istrinya. Surat itu langsung dibaca. Pelan-pelan sekali dia membacanya, khawatir ada yang terlewat. Beberapa kata yang kurang dimengerti segera diulanginya.

Entah berapa kali dia membacanya, yang jelas kini dia mengerti kalau surat itu merupakan pernyataan kalau Rosa telah menang dalam undian itu. Selain pernyataan itu, tertera juga nama seseorang serta nomor handphone-nya dan tanggal batas pengambilan.

“ Betul, Ma. Kalau menurut surat ini, mama-lah yang menjadi pemenang dalam undian itu “

Kepala Gondo menganguk-ngangguk, kemudian dia menatap lagi surat itu, kemudian diserahkan kepada Rosa.

“ Tapi, apa betul ya, Ma ?

Keraguan dalam benak Gondo muncul.

“ Papa ini bagaimana sih ? Masa Papa masih enggak ngerti juga. Surat itu jelas kan ?

Rosa jengkel dengan sikap ragu suaminya. Sudah berkali-kali surat iru dibacanya, masih tidak mengerti juga.

“ Menurut surat itu memang betul. Tapi.... “

Gondo tidak meneruskan kata-katanya. Dia tak bisa lagi me-ngeluarkan semua yang ada dalam benaknya.

“ Oh, Mama tahu perasaan Papa. Tapi bagaimana kalau se-mua itu benar dan kita tidak mengambilnya. Itu artinya kita telah membuang kesepaka-tan kita untuk mendapatkan sebuah mobil. Mana mungkin, orang seperti kita bisa membeli mobil “

“ Ya sudah kalau begitu, terserah Mama saja !

“ Enggak bisa begitu dong, Pa. Kita harus membuktikannya sama-sama “

“ Baik kalau begitu. Sekarang kita coba hubungi orang yang namanya Hendry “

“ Betul, Pa. Mama setuju “

Rosa menatap Gondo, kemudian tersenyum. Dia senang de-ngan sikap suaminya.

000

Rosa mendekati tilpon di sebuah meja kecil, kemudian memijit tombol tilpon itu sesuai dengan nomor handphone yang tertera dalam surat yang dipegangnya. Setelah itu dia melekatkan gagang tipon itu di telinganya. Sementara itu Gondo berdiri di sam-pingnya.

“ Hallo ! terdengar suara dari gagang tilpon itu.

“ Hallo ! Dengan Pak Hendry ? tanya Rosa dengan suara agak ge-metar. Dia nampak sangat grogi mendengar suara itu.

“ Betul. Saya Hendry. Bu Rosa ya ?

“ Be..betul “

“ Oh ya. Apa ibu sudah menerima surat panggilan itu ?

“ Sudah, Pak “

“ Selamat ya, Bu. Ibu beruntung sekali “

“ Terima kasih, Pak. Tapi apa betul, saya telah memenangkan undian itu?

Rosa melirik Gondo.

“ Lho.. ibu ini gimana, masa ibu enggak percaya dengan pe-rusahaan kami ?

“ Bukan begitu, Pak. Tapi... “

“ Terserah ibu saja. Mau diambil boleh, enggak juga tidak apa-apa. Perusahaan kami tidak akan rugi, kok “

“ Maaf, Pak ! Kalau begitu saya ambil, Pak “

“ Nah begitu dong, Bu. Kan sayang kalau enggak diambil “

“ Iya, Pak. Lalu, apa yang harus kami lakukan selanjutnya ?

“ Begini, Bu. Pertama, ibu harus melengkapi semua persya-ratan yang tertera dalam surat itu. Kedua, ibu harus datang langsung ke alamat yang sudah kami tunjuk. Ketiga, ibu harus menyiapkan uang untuk membayar pajaknya. Keem-pat, ibu harus datang sebelum batas waktu pengambilan. Hanya itu saja saya kira yang harus ibu lakukan “

“ O begitu ya, Pak. Tapi, berapa uang yang harus kami se-diakan, Pak ?

“ Kalau menurut hitungan, uang yang harus ibu sediakan itu sekitar dua puluh juta “

“ Dua puluh juta ? Besar sekali ?

Kembali Rosa menatap Gondo.

“ Ya memang segitu pajaknya, Bu. Harga mobil escudo kan mahal, Bu “

“ Tapi saya tidak punya uang sebesar itu, Pak “

“ Begini saja, Bu. Ibu bayar saja dulu sebagian, sisanya ibu bisa bayar belakangan. Perusahaan kami selalu memberikan toleransi kepada pemenang undian itu “

“ Baik. Terima kasih banyak, Pak. Saya akan mempertim-bangkannya “

“ Sama-sama, Bu “

Rosa meletakan gagang tilpon itu, kemudian memandang suaminya. Dia menceritakan isi pembicaraannya dengan Pak Hendri kepada Gondo. Namun setelah itu dia nampak bingung.

“ Sepuluh juta, bukan uang sedikit, Ma. Darimana kita akan mendapatkan uang sebanyak itu ? kata Gondo.

Rosa diam. Mau dapat mobil harus keluar uang banyak, pikirnya. Lalu, darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu beberapa hari. Tapi kalau tidak diambil, sayang. Dia terus berpikir men-cari jalan keluarnya.

“ Begini saja, Pak. Mama kan punya tabungan di bank. Tapi jumlahnya tidak sebesar itu. Bagaimana kalau dipakai dulu “

“ Terserah mama saja, lalu kurangnya darimana, Ma ?

Rosa menatap Gondo, kemudian tersenyum.

“ Papa di kantor kan bendahara. Masa sih Papa enggak bisa pakai dulu uang yang ada di laci Papa ?

Gondo diam. Dia enggak biasa menggunakan uang tanpa seijin atasannya. Dia berpikir, bagaimana nanti kalau ditanya atasannya. Ditatapnya wajah istrinya. Timbul rasa ibanya.

“ Terus, kalau Papa pakai uang kantor, bagaimana kita bisa menggantinya ?

“ Itu soal mudah, Pa. Kita pinjam saja ke bank. Dalam waktu seminggu juga cair. Gimana, Pa. Papa setuju kan ?

Gondo menatap Rosa, kemudian mengangguk. Tak sanggup lagi dia menolak semua keinginan istrinya. Lagi kalau me-mang betul, bukankah dia juga akan menikmatinya.

000

Suara tahrim terdengar nyaring dari sebuah mesjid yang kebetulan tidak jauh dari rumah Rosa. Rosa yang tak sekejap pun dapat memejamkan matanya, bangkit dari tempat tidur. Setelah membangunkan suaminya, dia pergi ke kamar mandi.

Dalam waktu sekejap, dia sudah keluar lagi, kemudian shalat subuh dan berdoa. Usai shalat subuh dia berpakaian. Gondo mengikuti jejak istrinya. Kini keduanya siap untuk berangkat.

Tak lama berselang, terdengar suara mobil berhenti depan rumahnya. Sebuah mobil kijang kapsul sudah nongkrong di sana. Setelah minta doa dari kedua anaknya, Rosa dan Gondo ke luar dan masuk ke mobil yang sudah disewanya selama sehari.

Dalam mobil sudah menunggu tiga orang pria. Dua orang duduk di jok depan, seorang supir dan seorang polisi, Herman namanya. Rosa sengaja membayarnya untuk menja-ga sesuatu yang mungkin terjadi. Sedangkan seorang lagi duduk di jok tengah. Orang itu sengaja dibayar untuk membawa mobil yang akan diam-bilnya nanti.

Setelah Rosa dan Gondo masuk, mobil itu segera melaju meninggalkan rumah itu. Tak banyak yang dibicarakan dalam mobil itu, semua sudah dibagi tugas masing-masing. Setelah beberapa jam, mobil itu sudah berada di Jakarta.

Rosa, dengan handphone-nya langsung mengontak Pak Hen-dry. Rupanya Pak Hendry sudah menunggu kedatangannya di tempat yang sudah ditetapkan. Supir, yang konon sudah tahu seluk beluk kota segera mencari alamat itu. Betul saja, alamat tidak susah dicarinya.

Hendri yang berpakai super rapi, dengan dasi dan stelan jas segera menyambut kedatangan tamunya di depan kantornya. Rosa, Gondo dan Herman dibawa ke sebuah ruangan yang tergolong cukup mewah. Terjadi pembicaraan diantara mereka.

Sesuai dengan kesepakatan sebelumya, Rosa menyerahkan beberapa surat, Pak Hendry dibantu seorang temannya yang juga berpakaian sangat rapi, menerimanya. Terakhir Rosa menyerahkan sejumlah uang. Pak Hendry menerima sesudah membuatkan sebuah kwitansi.

Pak Hendry, dengan koper bagus di tangan ikut dengan rom-bonyan Rosa, sedangkan mobilnya yang dibawa temannya, mengikuti dari belakang. Tak berapa lama, mobil itu sudah masuk di halaman kantor majalah itu.

Tepat di pintu utama kantor itu, Pak Hendry turun, diikuti Rosa, Gondo dan Herman. Sedangkan mobil yang ditum-panginya parkir di tempat yang sudah disediakan, berjejer dengan puluhan mobil lain.

Pak Hendry membawa ketiga relasinya masuk ke dalam kantor yang sangat mewah itu. Terasa hawa sejuk AC menyelimuti setiap orang yang ada di dalamnya. Setelah menyuruh duduk di kursi tamu, Pak Hendry mendekati seorang wanita cantik yang duduk di sebuah meja bundar. Terjadi pembicaraan diantara keduanya. Entah apa yang dibicarakan tidak terdengar jelas.

Tak berapa lama, Pak Hendry kembali menemui ketiga rela-sinya. Dia meminta ketiganya agar menunggu beberapa saat. Rosa, Gondo dan Herman menuruti permintaan Pak Hendry. Dipandanginya seluruh ruangan itu. Di sebuah ruang kaca, nampak sebuah escudo baru berwarna hitam. Mungkin itulah mobil yang akan dibawanya, bisik Rosa dalam hatinya.

Rosa duduk di kursi tamu itu dengan perasaan senang. Tak lama lagi dia akan membawa mobil yang ada di depannya. Mobil itu akan melaju di jalan tol dengan kecepatan tinggi. Itulah bayangan yang ada dalam benaknya. Namun setelah cukup lama dia menunggu, Pak Hendry masih belum muncul juga. Dia pun mulai gelisah.

Tak hanya Rosa, Gondo juga merasakan hal yang sama. Namun perasaan itu disembunyikan. Dia mengira, mungkin tidak gampang mengurus hal seperti itu.

Rosa, Gondo dan Herman terus menunggu dengan perasaan gelisah. Sementara hari hampir petang. Namun ternyata Pak Hendry belum muncul juga. Rosa dan Gondo semakin gelisah. Keduanya tak bisa diam dan berkali-kali mengusap mukanya yang pucat.

“ Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu ? tiba-tiba suara seorang wanita kepada Gondo dan Herman.

“ Oh ya. Kami sedang menunggu Pak Hendry “ jawab Gondo dengan suara gemetar.

“ Karyawan di sini, Pak ?

“ Betul, Mba “

“ Maaf, Pak. Di sini tidak ada yang namanya Hendry “

“ Lho yang tadi ngobrol sama Mba ?

“ Oh maaf, Pak. Saya tidak mengenalnya. Dia bukan karyawan “

“ Tapi, saya pemenang undian yang diadakan majalah ini “

Gondo memperlihatkan surat pemberitahuannya. Wanita itu segera membacanya. Dia nampak kaget.

“ Maaf, Pak. Surat ini enggak benar, Pak. Undian sudah dibuka dua minggu lalu dan pemenangnya, bukan bapak, tapi orang Bekasi, Pak “

Bagai petir di siang bolong, Rosa mendengar pernyataan wa-nita itu. Sekeliling ruangan itu nampak gelap. Gondo pun, suaminya seperti tak ada di depannya.